DOKTER PEREMPUAN : ANTARA KEWAJIBAN DAN PROFESIONALITAS

DOKTER juga khususnya PEREMPUAN ternyata tidak lepas dari eksploitasi akibat sistem Kapitalisme atas nama profesionalitas. Saya menulis artikel ini mungkin tidak bisa dikatakan mewakili para dokter wanita muslim, karena mungkin ada yang berseberangan pendapat dengan saya. Saya tidak bermaksud mengutarakan kegalauan atau uneg-uneg dokter wanita, namun lebih kepada upaya penyadaran bahwa mutlak harus ada perubahan sistem di tengah-tengah kita. Masalah ada di tengah-tengah kita, harus kita cari tahu akar masalahnya dan ikut serta menyelesaikannya.
Saya memang belum mampu mengetengahkan angka statistik di sini. Ada berapa sih jumlah dokter ibu yang sedih dan sesak akibat terperangkap dalam jas putih sistem Kapitalisme? Ada berapa sih jumlah dokter ibu yang sedih karena anak-anaknya tidak mau berada di dekapannya dan lebih memilih berada di dekapan pembantu atau baby sitternya? Ada berapa sih angka dokter ibu yang harus mengakhiri pernikahannya (bercerai) karena suaminya merasa peran istrinya sudah begitu menyita waktu di luar sana sementara rumah tangganya tidak terurus? Mohon maaf saya tidak punya data itu. Saya hanya mampu menulis pada tataran pengalaman sejawat senior saya yang saya dengar.

Ketika mengikuti pelaksanaan Tafakur Nasional Dokter yang dilakukan beberapa waktu lalu (27 November 2013), hati saya teriris, sakit…membuat air mata saya tidak mampu saya bendung mendengar orasi dari seorang dokter senior muslimah. Kenapa? Bukan hanya semata-mata karena Kriminalisasi Dokter (tentu saya juga menolak hal ini, karena dengan demikian membuat kami para dokter takut melaksanakan tugas kami meski sesuai prosedur…karena faktanya, sudah sesuai prosedur ternyata tetap dipenjara jika tidak sesuai hasil yang diharapkan pasien), namun lebih kepada kewajiban yang telah diberikan Allah Swt kepada makhluk yang bernama wanita muslim, sebagai Umm wa Rabbatul Bait (Ibu dan pengelola Rumah Tangga). Sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Salahkah jalan profesi yang sudah saya pilih ini ya Allah… menjadi dokter muslimah yang kelak jika Engkau berkehendak juga akan menjadi ibu.

Berikut ini merupakan fakta dokter ibu yang terjadi di sekililing saya:

Penggalan orasi saat Tafakur Nasional Dokter yang terus terngiang di telinga saya: “Kami mengorbankan kebersamaan kami bersama anak-anak kami karena pasien kami. Tidak cukupkah pengorbanan yang kami lakukan?”

Fakta lain dari cerita berbeda: Seorang dokter wanita yang juga seorang ibu menyesal karena anaknya lebih memilih bersama dengan pengasuhnya daripada ibunya. Jadwal jaga beliau di IGD begitu banyak. Walhasil, sang anak dirawat dan dijaga oleh baby sitternya.

Cerita yang lain: Curahan hati dari seorang dokter muslimah yang saat itu sudah bergelar Sp.OG menyatakan bahwa dirinya menyesal mengambil bagian Obgyn karena dalam seminggu, intensitas pertemuan beliau dengan suami dan anaknya bisa dihitung dengan jari.

Lagi, cerita dari sejawat saya: Anaknya memilih berada di dekapan ayahnya ketimbang ibunya.

Lagi, curahan hati melalui twitter sejawat saya: Saat ini saya jadi IRT aja, jagain dan merawat anak yang baru lahir, soalnya suami melarang kerja. Cukup dia aja yang menjalankan profesinya sebagai dokter.

Lagi, cerita dari sejawat senior yang suaminya juga seorang dokter spesialis: beliau (dokter ibu) tidak lagi menjalani profesinya sebagai dokter karena dilarang oleh suami. Cukup di rumah saja, mengurus rumah tangga, anak dan suami.

Di kubu berbeda, pernyataan dosen saya (laki-laki) yang mengkritik kawan-kawan sejawatnya: “Banyak kawan-kawan sejawat saya yang wanita saat ini menjadi Ibu Rumah Tangga, jadi saya menasehati kalian (menunjuk kami, mahasiswanya) khususnya para wanita, kalian harusnya jadi dokter keluarga, bukan keluarga dokter. Suami dokter, istri dokter, punya anak disekolahin dokter. Jika sudah disumpah, maka harusnya profesional, jangan hanya jadi IRT.”

Demikianlah fenomena dokter ibu yang ada di sekitar saya. Saya yakin masih banyak cerita terkait dokter ibu yang belum tertulis di sini.

Seorang kawan sejawat wanita yang belum menikah pernah memberikan statement terkait wacana yang saya munculkan di media sosial: “dokter jaga 24 jam manusiawikah?”

Kemudian dia berkomentar: “Stay cool aja…saya jaga setiap hari, 30×24 jam.”

Benarkah bisa stay cool? Tenang aja maksudnya? Tenang tidak perlu dipermasalahkan? Bagi seorang wanita yang belum menikah, tentu belum menjadi masalah. Namun bagi yang sudah menikah? Ini tentu masalah yang secara langsung atau tidak, bisa berujung pada perceraian, ketidakridhoan suami dan dosa. Jadi hal ini harus kita bahas, karena kita juga tentu harus peduli terhadap anak-anak dari sejawat kita yang kekurangan kasih sayang seorang ibu. Kita juga harus peduli terhadap aturan Allah yang telah ditetapkan namun mulai disepelekan bahwa WANITA DALAM HAL INI IBU BERKEWAJIBAN MENDIDIK ANAK-ANAKNYA. Sekali lagi WAJIB HUKUMNYA. Jika ditinggalkan berdosa. Jika dilalaikan berdosa.

Jika ada yang berkomentar, “Siapa suruh jadi dokter… ini adalah konsekuensi jadi dokter. Jika anda sudah jadi dokter dan sudah disumpah, maka kehidupan pribadi anda akan menjadi nomor dua setelah menjalankan profesi anda. Anda harus profesional!”. Benarkah demikian?

Benarkah pilihan seorang wanita muslimah memilih menjadi dokter itu suatu KESALAHAN?

Flash back ke masa Rasulullah SAW, ternyata Aisyah ra. adalah seorang thobib (dokter). Namun apakah dengan menjadi thobib timbul masalah dalam keluarga Baginda Rasulullah Saw? Setahu saya tidak ada riwayat tentang hal tersebut, bahwa Aisyah ra. mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri karena beliau adalah Thobib. Subhanallah…

Lantas apa yang salah?

Jumlah dokter kita kurang? Betul. Sehingga waktu dokter menjalankan profesi dokternya begitu lama di luar sana ketimbang mengurus keluarga. Jika demikian, apa solusinya? Tingkatkan jumlah dokter, agar bisa bergantian jaga dalam sehari, misal dibagi 4 shift, selesaikah?

Ternyata tidak semudah itu. Biaya pendidikan dokter saat ini begitu membumbung tinggi. Bahkan hanya terjangkau oleh kalangan menengah ke atas. Subsidi pendidikan dokter sudah ditarik oleh pemerintah, akibatnya setiap FK harus memutar otak bagaimana caranya agar dapur tetap bisa ngepul. Mau tidak mau, dengan ‘terpaksa’, biaya operasional dibebankan kepada mahasiswa. Lagi-lagi pemerintah lepas tangan terhadap kewajibannya menyediakan pendidikan bagi rakyatnya. Inilah kapitalisasi pendidikan yang dibungkus rapi dalam bentuk Undang-undang Badan Hukum Pendidikan.

Belum lagi angka morbiditas (kesakitan) yang terus meningkat akibat dari persoalan sistemik. Anak kurang gizi karena biaya hidup makin mahal. Diare akibat sanitasi yang tidak baik dan sebagainya. Begitu jelas tampak di media, orang miskin semakin melarat, aparat pemerintahan perekonomiannya semakin terangkat.

Setelah dianalisis, wahai para dokter ibu, para dokter muslimah, para dokter wanita, yang salah bukan pilihan anda. Yang salah adalah sistem Kapitalisme saat ini. Hampir semua bidang saat ini mulai dilepaskan pengurusannya oleh negara. Dari Sumber Daya Alam, pendidikan sampai masalah kesehatan. Semua dikapitalisasi dan diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola atas nama GOTONG ROYONG. Hal ini tentu menyediakan lahan subur bagi para investor asing pemilik modal besar untuk menanamkan modalnya dan meraup keuntungan dari populasi lebih 200 juta jiwa (Indonesia). Akibatnya yang kaya makin kaya…yang miskin makin merana.

Bak gayung bersambut, pemikiran masyarakat pun kian kapitalistik dan materialistik akibat terus dibombardir oleh sistem kapitalisme. “Hari gini mau sekolah dokter murah? Jangan jadi dokter kalau miskin…” Demikianlah pernyataan seorang staff FK yang sampai ke telinga saya ketika saya memprotes ‘kebijakan’ kenaikan SPP yang semula 2,5 juta menjadi 6 juta rupiah/semester dalam pertemuan seluruh koas dan dekan beberapa tahun lalu. Bahkan dalam pertemuan tersebut tidak ada yang mau bicara setidaknya memberikan pernyataan bahwa mereka tidak setuju. Bahkan dua orang mantan presiden BEM periode berbeda yang duduk di depan dan di belakang saya pun tidak berkutik saat itu.

Dengan demikian, otak dokter muslimah saat ini pun tidak lepas dari UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Karena sejak awal, sekolah dokter perlu duit. Selesai dokter pun perlu duit agar tetap bisa praktek sebagai dokter. Soalnya ada Satuan Kredit yang harus dipenuhi dokter dalam 5 tahun, yaitu 250 SKP yang tentu saja lagi-lagi butuh duit. 8 SKP untuk acara simposium terkadang dibandrol lebih dari 1 juta rupiah, belum biaya akomodasi. Tidak heran, dokter muslimah ada yang kerja pagi, praktek lagi malam untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akhirnya kewajiban terbengkalai sebagai seorang ibu dan istri.

Islam adalah Solusi

Dalam Islam dikenal lima hukum (ahkamul Khamsa), yaitu Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram. Masing-masing hukum tersebut ada dalam setiap perbuatan yang sudah ditetapkan oleh Pencipta manusia yaitu Allah Swt yang kita ketahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Setiap perbuatan pasti ada hukumnya. Wajib adalah hukum perbuatan yang jika dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan berdosa. Sunnah adalah hukum perbuatan yang jika dikerjakan berpahala, jika tidak dikerjakan rugi. Mubah adalah hukum perbuatan yang jika dikerjakan atau tidak dikerjakan, tidak apa-apa. Makruh adalah hukum perbuatan jika dikerjakan merugi, jika ditinggalkan berpahala. Dan yang terakhir haram adalah hukum perbuatan yang jika dikerjakan berdosa dan jika ditinggalkan berpahala. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang mengaku Islam memperhatikan hukum setiap perbuatannya. Subhanallah…jelas ya. Demikianlah aturan dari Allah Swt atas perbuatan kita manusia selaku hamba ciptaan-Nya. Mau selamat dunia akherat, ya gunakanlah aturan dari-Nya.

Nah, sekarang tugas kita adalah mencari tahu hukum dari tiap-tiap perbuatan. Hukum mendidik anak, mengurus rumah tangga dan suami bagi seorang wanita adalah WAJIB. Peran utama seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Sementara laki-laki wajib memenuhi nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Subhanallah, demikianlah peran yang telah diatur dalam Islam.

Bagaimana dengan hukum bekerja bagi wanita? Hukum bekerja bagi wanita adalah mubah (boleh) selama mendapatkan izin suami dan tidak mengabaikan peran utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Dengan demikian, seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter tentu tidak masalah selama dia mendapatkan izin dari suami dan tidak mengabaikan peran domestiknya (rumah tangga).

Bagaimana dengan profesionalitas seorang dokter? Memilih menjadi dokter bagi seorang wanita adalah mubah (boleh), namun ketika telah memilih terjun ke dalamnya dan telah diberi tanggungjawab atas profesinya, maka seorang wanita juga wajib memenuhinya lagi-lagi dalam koridor patuh pada suami dan tidak mengabaikan peran utamanya, karena jika dia melalaikan hal tersebut, berarti dia berdosa. Demikianlah yang saya pahami. Mohon diluruskan jika ada pemahaman yang keliru di sini. Namun dalam pandangan masyarakat saat ini, profesi dokter dipandang sebagai profesi yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga melalui media, hal-hal yang terus disampaikan terkait sosok dokter ideal adalah dokter yang mengabdi hanya demi masyarakat. Rela ke pelosok, tidak dibayar dan seterusnya.

Apakah harus demikian seorang dokter baru dikatakan ideal? Mengutip suatu hadits, sebagai berikut:

Sabda Rasulullah kepada sahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, diriwayatkan dalam kitab shahih Bukhari :”Wahai Abdullah, dikhabarkan kepadaku, bahwasanya engkau puasa disiang hari, dan shalat dimalam hari(tahajjud) ? Maka Abdullah berkata, “Iya, benar wahai Rasulullah”. Apa tanggapan Rasulullah saat itu? :”Jangan engkau lakukan itu, puasalah dan juga berbukalah, shalatlah, tapi tidur juga, karena apa? Karena tubuh kamu punya hak atas kamu(untuk istirahat), mata kamu juga, istri kamu juga, tetangga kamu juga……dst..(H.R Bukhari kitab puasa, bab hak tubuh dalam hal berpuasa).

Berdasarkan hadits tersebut, Rasulullah Saw menegur tentang seorang sahabat yang hanya fokus melakukan ibadah mahdhoh saja dan melalaikan perannya yang lain. Dengan demikian, seorang dokter seharusnya tidak dituntut hanya berkutat dalam profesinya saja dan dibiarkan mengabaikan kewajibannya yang lain. Seorang dokter muslimah yang ideal adalah muslimah yang paham dan mampu menjalankan perannya sebagai istri (jika sudah bersuami), sebagai ibu (jika sudah memiliki anak), sebagai dokter jika dia mengemban tanggung jawab atas masalah kesehatan di tempat kerjanya dan juga sebagai individu dan bagian dari masyarakat yang berkewajiban menyampaikan risalah Islam (dakwah). Jadi dakwah juga kewajiban dokter baik laki-laki dan perempuan. Bergabung dalam jamaah yang memperjuangkan tegaknya aturan Allah swt, wajib hukumnya. Bukan suatu pilihan yang boleh atau tidak untuk diambil.
 

Dokter muslimah/dokter wanita/dokter ibu tetap sangat diperlukan, karena pasien-pasien juga banyak yang wanita yang sebagian besar lebih memilih dokter wanita jika menyangkut masalah kewanitaan. Bahkan ada yang memilih tidak berobat karena tidak ada dokter wanita spesialis yang para mereka perlukan. Kita tidak pungkiri hal tersebut. Karena itu tidak heran banyak kawan-kawan muslimah saya yang menganjurkan saya lanjut sekolah dan mengambil bidang Spesialis Kandungan.

Tapi mohon maaf saudariku…sepertinya hal tersebut tidak akan saya pilih jika kita terus berada dalam sistem kapitalisme saat ini. Sistem yang membuat negara lepas tangan dan ‘menjual’ aset-aset negara atas nama kerjasama. Dalam sistem saat ini, justru saya yakin, jumlah para dokter ibu yang sadar akan kewajibannya sebagai Ummu Wa Rabbatul bait, akan meninggalkan sektor profesinya karena ketaatannya pada suaminya yang merupakan perintah Pencipta-Nya dan kewajibannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Jumlah dokter ibu yang memilih menjadi IRT akan semakin besar jumlahnya jika terus berada dalam sistem Kapitalisme. Saya yakin itu. Kenapa? Karena para istri dan para ibu sekarang mulai banyak yang sadar akan kewajibannya sebagai istri dan sebagai ibu. Bagi dokter ibu yang mengutamakan berada dalam sektor profesinya, sadarlah bu…kita saat ini diperdaya. Para wanita sedang diperdaya oleh ide kesetaraan Gender yang membuat para ibu lebih mengejar prestise daripada mengejar Ridho Allah swt.

Bagi anda yang mencela pilihan dokter ibu tersebut dan menyatakan mereka tidak profesional, yuk sama-sama ubah sistem Kapitalisme saat ini menjadi Daulah Khilafah Islam. Haqqul yakin…dalam Daulah Khilafah Islam, dokter ibu tetap bisa menemani pertumbuhan anak-anaknya, mendidiknya dan mengurus rumah tangganya dan tentu saja bisa menjalankan profesinya dengan porsi yang tidak menyita waktu. Daulah Khilafah Islam akan memikirkan hal itu dan menyelesaikan persoalan tersebut, karena negara bertanggungjawab terhadap semua regulasi sistemnya (pendidikan, kesehatan, dll).

Wallahu ‘alam bishowab..
dr.Kasma
Selesai di Tg.Redeb dalam ruang periksa Klinik Sehat, 21 Desember 2013

Mohon luruskan jika ada kekeliruan.

Iklan

Sekolah FK di Sistem Kapitalisme, Masih Mau?

Sekolah FK di kapitalisasi. Subsidi oleh negara di bilang basi. Subsidi terus, katanya kapan masyarakat bisa mandiri. Jangan heran biaya sekolah FK semakin menjadi-jadi. 

Kini program Dokter Layanan Primer akan dijadikan program studi. Tambah 2 tahun lagi agar bisa mengabdi. Aduhai…sekolah FK lama sekali. 

Fasilitas kesehatan di privatisasi.
Pemerintah cuci tangan dan jari.
Menyuarakan jargon kepada masyarakat atas nama gotong-royong dan saling subsidi. Tapi banyak rakyat kok jadi gigit jari. 

Banyak yang duduk di pemerintahan untuk memperkaya diri.
Duit negara dikorupsi.
Dokter-dokter lulusan baru woro-wiri.
Pemda bilang tidak ada anggaran untuk menggaji.
Dokter-dokter lulusan baru gigit jari.
Jika tidak ada modal untuk mandiri.

Tapi kenapa masih banyak ke FK yang daftar diri?
Pasti karena belum ngeh dengan kondisi terkini.
Inilah buah dari sistem Kapitalisme Demokrasi.
Dengan demikian, hanya Khilafahlah solusi.
*Di edit di ruang tunggu @kliniksehat Berau. Sedang tidak ada pasien. 

INSPIRASI YANG TERTUNDA

Sebelum aku mengungkap isi tulisanku di sore hari ini, izinkan aku muhasabah terlebih dahulu. Astaghfirullah al-adziim ini sudah tanggal 28 Oktober 2014 dan tulisan terakhirku berada di tanggal 8 September 2014! Ckckck…sebulan lebih ku tak gunakan nikmat yang Allah beri untuk menyampaikan Islam via tulisan. Astaghfirullah….hamba mohon ampun yaa Rabb.

Suamiku bertanya padaku, “Setelah menikah, kehilangan inspirasi ya?” Pertanyaan itu tidak langsung aku jawab secara detil kala itu. Izinkan aku mengungkapkannya di sini sebagai sebuah inspirasi yang tertunda, bukan untuk menggambarkan tentang diri karena ku sadar belum optimal mengabdi, hanya sebagai pengingat untuk diri dan wanita muslim seluruh negeri agar menjadi bekal di yaumil akhir nanti. “Aku absen menulis bukan karena kehilangan inspirasi. Sumber inspirasi itu selalu ada. Namun, ketika ia terlintas bermain-main di kepala, aku lebih memilih bersama qawwamku, melayaninya, memasak untuknya, mencucikan pakaiannya dan memenuhi hak-haknya atas diri.” Kenapa? Karena berupaya menjalankan apa yang disampaikan Rasulullah Saw.

Bazzar telah memberitakan dari Abdullah bin Abbas ra., dia berkata, “Dalam suatu peristiwa telah datang seorang wanita kepada Rasulullah Saw sebagai wakil dari kaum wanita lain, lalu berbicara kepada beliau,” katanya, “Wahai Rasulullah! Aku ini sebagai utusan dari kaum wanita untuk bertanya tentang jihad. Dia telah diwajibkan atas kaum lelaki saja. Jika mereka mendapat kemenangan akan diberikan pahala yang besar dan jika mereka terbunuh dianggap hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberikan berbagai rezeki dan karunia. Kami kaum wanita yang bersusah payah mengurus segala keperluan mereka apa yang kami dapat?!”

Jawab Rasulullah Saw, “Sampaikanlah berita ini kepada siapa saja yang engkau temui dari kaum wanita, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak suami adalah setimpal dengan pahala jihad. Malangnya, sangat sedikit di antara kamu yang dapat melaksanakannya.” (Riwayat Bazzar).

Kini tulisan ini hadir di hadapan anda sebagai sebuah inspirasi yang tertunda. Semoga hadits ini sentiasa menjadi pengingat bagi diri kita, wanita muslimah yang ingin membuat diri sholehah di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang “sangat sedikit” sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw dalam hadits tersebut. Aamiin…

Mohon ridho darimu qawwamku.

Perusahaan Negara

Teringat pernyataan seorang bapak asal Papua yang diwawancarai di sebuah acara berita televisi. Saat itu beliau datang ke rumah peralihan pemerintahan Jokowi-JK dengan maksud ingin mendaftar sebagai bagian dari kabinet baru. (Yah…begitulah kira2 yang saya tangkap dari berita tersebut. Sorry jika ada kata yang keliru).

Dari wawancara tersebut, jujur aku tak begitu menyimak. Namun, ketika si bapak berkata Negara seperti Perusahaan, kontan gue tidak terima. Apa pak? Bapak mau buat negara seperti perusahaan? Pantesan… pantes apaan kasma?

Tujuan perusahaan itu apa? Sepemahamanku, (sepemahamanku lho ya, luruskan jika keliru). Tujuan perusahaan khan mencari materi atau keuntungan. Di bagian struktural perusahaan ada direktur, manager, dll kemudian di bagian fungsional ada staff dll yang bekerja untuk mendapatkan gaji. Ada pemilik modal yang menopang perusahaan, kemudian ada konsumen yang dilayani sesuai dengan apa yang konsumen beri untuk perusahaan.

Jika negara disamakan dengan perusahaan, maka jelas…penguasa beserta jajarannya akan menjadi pengusaha yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya melalui berbagai pelayanan barang dan jasa yang bisa mendatangkan uang. Siapa konsumennya? Rakyat!

Emang salah klo begitu? Klo pake cara pandang (ideologi) kapitalisme, memang demikianlah cara kerja mereka. Ga salah…tepat sekali. Namun benarkah cara itu menurut pandangan ideologi Islam?

Islam mengajarkan bahwa penguasa adalah perisai bagi rakyatnya. Penguasa adalah pelayan bagi rakyatnya. Negara adalah ibu yang memberi perlindungan dari segala sisi tanpa meminta imbalan kepada anak-anaknya (red-rakyatnya). Maukah anda negara itu ada? Apakah ia akan muncul kembali?

Saya mau hidup di negara itu. Saya mau ibu penjaga seperti itu. Bukan pengusaha, tapi ibu… yang menjaga aqidah, akhlak, kebutuhan pokok, dsb tanpa pamrih. Itulah Daulah Khilafah Islamiyyah. Allahu Akbar!

Tsumma takuunu khilaafah ‘alaa min haj an nubuwwah.
Kemudian akan kembali Khilafah sebagaimana manhaj/metode kenabian.

Oleh dr.Kasma
Di pagi 8 September 2014
Ditemani suara detik jam di sudut kamar dan suara kokok ayam jantan di luar sana.

Selesai.
Akan direvisi jika ada yg protes dan ternyata memang keliru.

#YukNgaji

Cantik Itu….

Kasma ga kreatif ih. Sejak tulisan terakhir judulnya gitu mulu…. pake satu kata, trus diikutin dengan kata ‘itu’ dan titik-titik di belakangnya.

Aduuh…jangan protes ah, mending nih aku masih mau nulis, padahal bukan penulis. Semoga kelak jadi penulis yang punya buku. Aamiin…

Apa yang ada di pikiran anda ketika dihadapkan pada judul tulisan ini? Isilah titik-titik setelah kata ‘cantik itu’. Oke saya kasih satu detik. Satu! Yap, sebagian besar akan berkata “Cantik itu relatif”.

Maksudnya apa nih, relatif? Relatif itu menurut sepemahamanku (pake pemahamanku lho ya. Lagi ngga mood cek KBBI nih). Relatif itu tidak mutlak, bisa berbeda-beda, tergantung pada siapa yang memandang dan pake sudut pandang apa. Nah loh! Tambah bingung khan loe. Sama, aku juga bingung. Oke, gini-gini. Langsung contoh aja dah. Banyak yang bilang, supaya tampil cantik, perempuan kudu dandan… poles sana, poles sini, bulu mata pendek pakein maskara, belum ampuh jugak, pake bulu mata palsu badai ala ala Syahr***, alis ambur adul di sulam aja, hidung pesek diopla aja, gigi ga teratur dikikir aja, dagu ngga ada lebahnya di suntik aja, warna mata biasa saja di pakein softlens aja, dan seterusnya… Alhasil…cantikkah?

Mmm…klo pake sudut pandang kapitalisme, ya iyalah cantik… para wanita dibentuk mindsetnya dengan tayangan2 iklan bahwa wanita cantik adalah wanita yang bulu matanya tebal karena maskara, yang bibirnya merah merekah karena lipstik dan seterusnya…supaya apa hayo? Ya, supaya barang dagangan si pemilik modal dalam alam kapitalisme ini laris lah…

Trus klo ngga pake semua yang di atas, cantikkah? Nah, sudut pandang ini yang akan kita bahas nanti. Kita pakai sudut pandang kepemimpinan berpikir kita aja ya. ISLAM. Cantik menurut Islam itu bagaimana sih?

***

Terinspirasi dari acara Hitam Putih nya mas Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu, yang menghadirkan putri Indonesia sebagai bintang tamu, saya tergelitik dengan pertanyaan Deddy Corbuzier yang diajukan kepada Putri Indonesia. Dialognya kurang lebih begini:
“Anda merasa cantik?” Kemudian Putri menjawab dengan bahasa diplomatis, yaa seperti pembahasan kita di pengantar tadi… “cantik itu relatif.” Namun Deddy masih terus mencecar dengan pertanyaan yang sama, “anda merasa cantik?”. Akhirnya Putri menjawab, “Iya, saya merasa cantik”.
Pertanyaan Deddy pun berlanjut, “Jika diminta memilih antara Beauty, Brain and Behavior, anda memilih apa?” Putri tampak tidak ingin diminta memilih, namun karena masih didesak oleh Deddy, akhirnya dia menjawab, “BRAIN”…

Oke saudariku muslimah, kira-kira apa ibroh yang bisa kita petik dari tayangan tersebut? Anda akan menjawab apa jika pertanyaan serupa diajukan kepadamu wahai saudariku?

Bersambung…. hpku low battery. Ntar aku lanjut klo ga ada pasien, oke.

Cinta itu….

Ada yang menarik pada halaqoh mingguan kitab Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah tim ku beberapa hari yang lalu. Pembahasan materi kitab pada waktu itu adalah tentang kita, #eh tentang CINTA. Waah…pasti pada riuh ni kalo ngomongin rasa yang satu ini. Tapi sorry kawan, ini bukan cinta monyet, cinta lama bersemi kembali atau yang sejenisnya, ini tentang cinta yang agung, cinta suci, cinta di atas cinta, cinta yang harus diutamakan lebih dari apapun dalam hidupmu! Itulah cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya Muhammad Saw.

Dalam kitab yang dikaji tersebut, *penasaran khan… makanya, #YukNgaji. Gratis lho. Uda dapat bekal ilmu kehidupan, jika diniatkan karena Allah Swt, maka segala makhluk di langit dan di bumi akan memohonkan ampun untuk kita kepada Allah Swt karena kita mengkaji ilmu Islam. Ilmu yang WAAJIB diketahui untuk selamat dunia akherat. Maashaa Allah…apa ngga keren tuh? Oke, lanjut. Dalam bab yang dikaji tersebut, yaitu berjudul CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA, dijelaskan kepada kita tentang arti CINTA itu sendiri. Definisinya menurutku begitu jernih, begitu jelas dan tidak menimbulkan pertanyaan baru. Cinta adalah TAAT. Ya, itulah cinta. Ketika seorang hamba menyatakan dia cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, maka ia akan senang hati taat pada Allah dan Rasul-Nya.

Mendengarkan penjelasan dari mushrifahku, aku senyum-senyum sendiri, sehingga kawan setim yang ternyata sejak tadi memperhatikanku tiba-tiba berkata, “kenapa anti senyum-senyum?”. Maashaa Allah, #glek jadi malu saya. Aku lantas berkata, definisi cinta di sini begitu jernih, begitu mudah dipahami, tidak seperti cinta di bahasa puisi atau sastra (maaf kawan, saya tak bermaksud merendahkan tingginya bahasa seni yang bisa ditangkap oleh otak kalian), namun saya orang eksak, yang suka dengan ilmu pasti, tidak pandai dan tidak mampu memahami makna dari untaian kalimat indah.

Saya tak mampu menangkap makna cinta di bait-bait puisi yang sempat booming beberapa tahun lalu.

“Cinta adalah kekuatan, yang mampu… mengubah penjara jadi istana,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah amarah jadi ramah,
Dst….”

Belum lagi aku sempat memahami apa makna cinta di bait-bait puisi itu, #eh ada tambahan lagi yang makin rumit saja tampaknya.

“……..
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta…
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.”

Alamak…rumitnya gambaran cinta situ…aku tak sanggup mencernanya. Mendengarkan celotehku, sang musyrifah pun tertawa. Hehehe, untung saya ga kena tegur gara-gara senyum-senyum sendiri. Baiklah, lain kali kalo saya senyum, akan saya bagi-bagi sebelum ditanya kenapa saya senyum…

Kalo ada yang berbaik hati ingin menjelaskan pada saya tentang arti gambaran cinta di puisi-puisi tadi, no thanks, i’m so sorry. Aku sudah sangat puas dan mengerti dengan definisi yang dijelaskan dalam kitab yang aku kaji setiap minggunya. Mau? #YukNgaji di Hizbut Tahrir.

Sebelum menutup tulisan singkat ini, mari kita renungkan ayat cinta-Nya Allah Swt untuk kita sebagai hamba-Nya, yang artinya:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, hartakekayaan yangkamu usahakan, perniagaan yangkamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nyadan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(9:24)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanyaAllah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.(16:107).

Oke, sudah… jadi cinta itu TAAT.
***

Selesai di balik jeruji besi #eh, dibalik tembok ruangan periksa dokter Klinik Sehat.
23 Syawal 1435 H/19 Agustus 2014.
Kasma #batupualam.